March 27, 2008 at 6:42 pm · Filed under seputar pendidikan and tagged: PMP (Pendidikan Moral Pancasila)
Pasti masih inget.
Dan yang paling saya hapal adalah tentang sebuah pertanyaan “doktrin” yang kenapa saya sebut itu adalah doktrin hanya karena ketika itu saya masih bocah SD, ingusan yang ga pernah bawa tissu buat mengusap hidung saya yang mampet, malah lebih suka bolak balik kamar mandi buat “cuci muka”. Malah lagi pernah karena terlalu seringnya “cuci muka” itu tadi lubang hindung saya sampai terasa perih (uuh sakit banget) haha..
Malah malah cerita ingusan, padahal judulnya PMP memang benar pelajaran PMP alias bapaknya PPKn alias mbahnya cucunya yang ga tau sekarang kalau di seumuran ingusan tadi masih disebut PMP ato sama seperti anak kuliahan yang namanya lebih “keren” dengan Kewarganegaraan.
Pertanyaan Doktrin
Ibu guru memberikan soal TSS (Tes Sub Sumatif) dan pada pertanyaan nomor sekian:
nomor sekian). Jika kita sebagai warga negara yang baik, apa yang seharusnya kita lakukan saat pemerintah membutuhkan sebagian halaman rumah kita dipergunakan untuk pelebaran jalan demi kepentingan umum?
a). Meminta harga tinggi untuk tanah kita.
b). Menolak tanah kita digunakan untuk pelebaran tanah.
c). Megikhlaskan sebagian tanah kita untuk pelebaran jalan.
d). Mengajak tetangga lain untuk menolak tanah kita digunakan untuk pelebaran jalan.
Dan begitu saya membaca jawaban C, saya langsung menyilang jawaban tersebut karena selain pasti jawabannya benar saya juga berpikir pesan seperti itu yang disampaikan oleh guru saya (entah apa memang bagusnya seperti itu).
Memang biasa dalam dunia ingusan tadi kita dididik tentang bagaimana menjadi warga negara yang baik dan berguna bagi bangsa negara tanah airku yang kucinta.. bla.. bla.. bla..
namun dengan “benar-benar kurang mengerti” bagaimana sebenarnya perasaan warga yang kehilangan sebagian tanahnya demi kepentingan ambil contoh jalan tol yang sampai sekarang masih menemui beberapa kendala dalam proses lobbying “harga” antara pemerintah dengan warga, apa yang diajarkan kepada kita-kita atau teman-teman semua yang masa SD kelas 3-nya terjadi pada tahun 1994-an apakah hanya diajarkan pada tahun ajaran kita saja atau baru diajarkan mulai tahun ajaran kita atau memang sebelum-sebelumnya tidak pernah ada materi yang seperti itu dalam pelajaran PMP.
Ga tau ah..
piss
March 26, 2008 at 2:15 am · Filed under seputar kampus and tagged: kampus
pertama kali ini saya nulis blog
bingung daripada belum keisi apapun maka saya coba tulis mengenai kehidupan mahasiswa di kampus saya, kenapa saya sbut kampus saya bukan kampus anda atau bahkan kampus nenek saya karena memang yang saya tau kehidupan disetiap kampus selalu berbeda antara kampus yang ini dengan kampus yang itu ataupun dengan kampus yang inu.
Saya menulis ini ya karena sekarang pukul 23.55 wib hari Selasa 25 Maret 2008 sayamasih berada dikampus, memang niat awal saya mau mengerjakan tugas mata kuliah teknik pendingin namun belum juga kesampaian bahkan memegang alat tulis saja belum apalagi melihatpertanyaan yang diberikan, daritadi masih berkutat bagaimana mencari ide untuk membuat blog sepert ini padahal saya juga dikejar waktu untuk pulang malah sebelum berpikir untuk membuat blog saya malah asik ngobrol tentang bagaimana kampus saya ini kok semakin lama semakin dirasan-rasan ama kawa-kawan kok katanya semakin sepi saja dari dulu awal ketika kami angkatan 2004 baru masuk dunia perkuliahan memang banyak sekali mahasiswa yang masih nongkrong di kampus mulai dari belajar bareng, asistensi laporan praktikum sampai nge-truf malah dulu ceritanya sampai disindir oleh dosen-dosen tentang maraknya “kehidupan malam” di kampus yang banyak menghabiskannya dengan ngobrol saja.
Padahal sekarang kalau dipikir-pikir tidak selamanya ngobrol-ngobrol di kampus itu jelek, selalu saja ada informasi yang nyempil disetiap perbincangan entah itu dari isu akademik isu kemajuan jurusan hingga isu pacar orang hehe meskipun sebenarnya dalam dunia kampus saya ngomongin pacar orang itu “ga penting” tapi namanya juga anak-anak kalau kumpul pasti ada aja yang dibicarakan.
Tidak selamanya nyangkruk itu jelek, kalimat tersebut yang selalu saya pegang sedari dulu ketika saya merasakan atmosfer kampus yang begitu nyaman di hati say, dari situ saya dapat banyak sekali manfaat mulai dari cara pandang yang kritis layaknya mahasiswa hingga muculnya kepekaan terhadap lingkungan.
Pikiran Lucu
pernah saya alami ketika suatu saat saudara saya bertanya “gimana? mbok ya pacarnya dikenalin sama pakdhe” dalam hati saya berkata “halah mikir pacar? akademik ama kampus dulu aja belum beres” tapi tidak mungkin saya sampaikan.